Curhat Ujian Akhir Semester Anak DKV

Assalamu'alaykum.
Halo. Selamat 2017 ya. Selamat datang ujian akhir semester.
Yang paling ditunggu-tunggu dari ujian adalah libur. Ho oh kan? 😂
Kali ini saya sedang menghadapi ujian akhir semester. Semester berapa, Nof? Semester banyak revisi, nih. Sedih. Revisi. Revisi fix. Revisi fix ya Allah. Revisi lagi ya Allah Allahu Akbar.

Sabar. Ini ujian. Ya, emang ujian. Lapiyesih.
Tapi nggak pa-pa, dengan revisi berarti kerjaan kita jadi makin baik, ya to.

Jadi, seminggu di awal Januari ini saya sudah menghadapi ujian. Dari ujian hidup sampai ujian di kampus. Beberapa ujian ini berhasil bikin isi dompet terkuras habis, jadi anak yang tukang malak orang tua (baca: minta duit buat nugas), ditambah kepala saya nyut-nyutan, kurang tidur, kantong mata hitam, demam, masuk angin sampai kurus kurang gizi. Oh, ya Allah, sesungguhnya ciptaan-Mu semuanya indah hanya saja hamba tidak bisa menjaga dan merawatnya dengan baik, maafkan hamba.

Semester ini pengeluaran luar biasa. Walaupun tiap semester juga sama aja, pengeluaran lebih banyak dari pemasukan. Apalagi sebagai anak DKV gini, apa-apa duit, apa-apa nyetak, apa-apa apa sih yang nggak apa-apa...

Sejujurnya saya kuliah di DKV ini galau dengan banyak permasalahan yang bertentangan dengan larangan-larangan di agama saya tentang dosa menggambar makhluk hidup. Jadi saya agak kesulitan dan ragu-ragu dalam menggambar sesuatu yang bernyawa. Kalau ada yang order biasanya saya sudah tekankan kalau saya tidak menerima orderan vector, kartun, karikatur, dsb yang berkaitan dengan makhluk hidup. Lebih baik saya nggak dapat uang daripada saya dapat dosa. Uang bisa dicari, tapi kalau dosa, ya saya mikir dua kali. Tapi, memang, kadang saya masih menggambar tapi dengan penguatan dalil-dalil dan nasehat ustadz atau ulama yang sudah memahami hal tersebut. Menggambar tapi tidak menggambar kepala. Menggambar kepala tapi menghapus wajahnya agar tidak serupa makhluk hidup. Wallahu'alam bishawab.

Saya seringnya mengantisipasi dengan karya tipografi atau gambar benda lainnya. Maka dari itu, saya lebih sering fokus ke karya tipografi digital. Seperti bisa dilihat di galeri saya di blog ini atau di instragram saya.

Tapi...
Kali ini saya malah kena tugas menggambar buku cerita anak yang kata dosen harus ada karakternya. Ealah, Nof... Walaupun beberapa ulama mengatakan seperti yang saya katakan di paragraf sebelumnya, boleh menggambar tapi hilangkan ini dan ini, tapi tetep aja saya merasa ragu. Apalagi Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam menyuruh kita meninggalkan yang meragukan. Karena yang meragukan itu bisa jadi baik, bisa jadi tidak.

Karena mau gimana lagi, mau nggak mau saya tetap menggambarnya.
Mau lihat? Nanti diakhir saya share. Singkat cerita, buku ini bercerita tentang seorang gadis kecil yang hidup sendiri di sebuah rumah yang jauh dari pemukiman. Ia tidak memiliki tetangga ataupun teman. Hari-harinya dilalui dengan bermain bersama para binatang yang ada di sekitar rumahnya. Namun, suatu ketika, dia merenung dan merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Ia akhirnya menyadari bahwa ia ingin memiliki seorang teman. Lalu ia bertanya pada bintang di langit bagaimana caranya mendapatkan teman. Akhirnya ia melakukan perjalanan sesuai apa yang dikatakan bintang. Gadis kecil itu berjalan ke utara melewati lembah, bukit, gurun hingga menyeberangi lautan. Ia hampir putus asa namun gadis itu gadis yang pantang menyerah. Maka ia terus melakukan perjalanan panjang tersebut. Sampailah ia diseberang lautan itu dan menemukan seseorang yang sudah menunggunya. Disitulah pencariannya berakhir dan akhirnya gadis itu memiliki seorang teman.

Dibawah ini hanya cuplikan dari sampul buku saja. Kalau kalian mau baca, nanti Ebooknya menyusul kalau saya nggak males bikin. Hihi.

Saya juga udahan aja curhatnya deh. Mau ngerjain tugas lagi. Semangat sukses untuk kalian yang sedang bernasib sama juga.

Wassalamu'alaykum.




Powered by Blogger.